Sabtu, 04 Oktober 2014




ANALISIS MODEL
 PERSEDIAAN BARANG JADI
PADA PT COCA COLA BOTTLING 
INDONESIA DI JAKARTA


  1. Latar Belakang Masalah
Salah satu masalah yang dihadapi oleh sebuah perusahaan adalah masalah dalam mengendalikan persediaan. Persediaan berkaitan dengan penyimpanan sediaan barang yang cukup (misalnya, komponen dan bahan mentah) yang akan memastikan lancarnya operasi sistem produksi, distribusi atau kegiatan bisnis yang dilakukan suatu perusahaan.
Sejak tahun 1951, para ahli telah memusatkan perhatiannya pada kemungkinan penggunaan pendekatan matematis untuk membantu pengambilan keputusan dalam menentukan tingkat persediaan yang optimal. Mulai saat itu semakin berkembang peralatan-peralatan kuantatif yang dapat digunakan dalam pemecahan masalah pengendalian persediaan (Thierauf dan Klekamp:21).
Secara tradisional, persediaan dipandang oleh bisnis dan industri sebagai suatu yang sulit, terlalu sedikit dapat menyebabkan interupsi yang mahal dalam operasi sistem yang bersangkutan, dan terlalu banyak dapat merusak daya saing dan probabilitas perusahaan. Dari sudut pandang itu, cara satu-satunya yang efektif untuk menangani persediaan adalah meminimumkan dampaknya yang merugikan dengan menemukan titik tengah di antara kedua kasus ekstrim ini.
Alasan utama yang menyebabkan perhatian terhadap masalah pengendalian persediaan demikian besar adalah karena kebanyakan perusahaan persediaan merupakan bagian atau “porsi” yang besar yang tercantum dalam neraca. Persediaan terlalu besar maupun kecil dapat menimbulkan masalah-masalah yang pelik. Kekurangan persediaan bahan mentah akan mengakibatkan adanya hambatan-hambatan pada proses produksi. Kekurangan persediaan barang dagangan akan menimbulkan kekecewaan pada pelanggan dan akan mengakibatkan perusahaan kehilangan mereka. Kelebihan persediaan akan menimbulkan biaya ekstra di samping risiko. Sehingga dapat dikatakan bahwa manajemen persediaan yang efektif dapat memberikan keuntungan perusahaan.
Masalah persediaan tidak hanya dialami oleh perusahaan manufaktur, perusahaan distributor juga dapat mengalami masalah yang serupa. Masalah yang timbul berhubungan dengan pendistributor produk salah satunya adalah masalah kapasitas gudang distributor, terkadang perusahaan ingin mengirim dalam jumlah tertentu kepada distributor akan tetapi kapasitas dari gudang distributor tidak memenuhi sehingga mau tidak mau produk akan menumpuk di pihak gudang perusahaan sehingga dapat menimbulkan biaya yang besar. Seperti yang terkadang dialami oleh PT Coca Cola Bottling Indonesia di Jakarta dalam pendistribusian produknya (Dessi K,2011).
PT Coca Cola Bottling Indonesia merupakan perusahaan minuman internasional yang bermarkas besar di Australia, yang menangani seluruh kegiatan operasional dan distribusi produk coca-cola diseluruh Indonesia, perusahaan ini membawahi 12 pabrik yang terbesar di Pulau Jawa, Sumatra, Kalimantan dan Sulawesi (Mubin,2004). Persediaan produk di PT Coca Cola Bottling Indonesia dikirim ke sales center kemudian baru dikirim ke outlet. Masalah yang terjadi dari persediaan produk coca-cola ini adalah pada kapasitas persediaan yang ada di gudang sales center tidak sesuai dengan jumlah permintaan setiap outlet.
Untuk itu diperlukan kebijakan-kebijakan yang dapat menguntungkan untuk kedua belah pihak atau kebijakan-kebijakan tentang produksi dan persediaan yang bertujuan untuk meminimalkan biaya gabungan antara perusahaan dan distributornya (Nyoman Sutapa dan Fransiska, 2000).
Berdasarkan uraian tersebut, terjadinya sebuah masalah pada persediaan barang sebuah perusahaan tergantung model persediaan yang digunakan perusahaan tersebut. Peneliti tertarik untuk mempelajari dan mengambil judul “Analisis Model Persediaan Barang Jadi pada PT Coca Cola Bottling Indonesia di Jakarta”. Sehingga PT CCBI di Jakarta dapat meningkatkan tingkat efektifitas persediaan produk dengan model persediaan yang lebih optimal.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar