ANALISIS MODEL
PERSEDIAAN BARANG JADI
PADA PT COCA COLA BOTTLING
INDONESIA DI JAKARTA
- Latar Belakang Masalah
Salah satu masalah yang dihadapi
oleh sebuah perusahaan adalah masalah dalam mengendalikan persediaan. Persediaan
berkaitan dengan penyimpanan sediaan barang yang cukup (misalnya, komponen dan
bahan mentah) yang akan memastikan lancarnya operasi sistem produksi,
distribusi atau kegiatan bisnis yang dilakukan suatu perusahaan.
Sejak tahun 1951, para
ahli telah memusatkan perhatiannya pada kemungkinan penggunaan pendekatan
matematis untuk membantu pengambilan keputusan dalam menentukan tingkat
persediaan yang optimal. Mulai saat itu semakin berkembang peralatan-peralatan
kuantatif yang dapat digunakan dalam pemecahan masalah pengendalian persediaan (Thierauf
dan Klekamp:21).
Secara tradisional, persediaan
dipandang oleh bisnis dan industri sebagai suatu yang sulit, terlalu sedikit
dapat menyebabkan interupsi yang mahal dalam operasi sistem yang bersangkutan,
dan terlalu banyak dapat merusak daya saing dan probabilitas perusahaan. Dari
sudut pandang itu, cara satu-satunya yang efektif untuk menangani persediaan
adalah meminimumkan dampaknya yang merugikan dengan menemukan titik tengah di
antara kedua kasus ekstrim ini.
Alasan utama yang menyebabkan
perhatian terhadap masalah pengendalian persediaan demikian besar adalah karena
kebanyakan perusahaan persediaan merupakan bagian atau “porsi” yang besar yang
tercantum dalam neraca. Persediaan terlalu besar maupun kecil dapat menimbulkan
masalah-masalah yang pelik. Kekurangan persediaan bahan mentah akan
mengakibatkan adanya hambatan-hambatan pada proses produksi. Kekurangan
persediaan barang dagangan akan menimbulkan kekecewaan pada pelanggan dan akan
mengakibatkan perusahaan kehilangan mereka. Kelebihan persediaan akan
menimbulkan biaya ekstra di samping risiko. Sehingga dapat dikatakan bahwa
manajemen persediaan yang efektif dapat memberikan keuntungan perusahaan.
Masalah persediaan tidak hanya
dialami oleh perusahaan manufaktur, perusahaan distributor juga dapat mengalami
masalah yang serupa. Masalah yang timbul berhubungan dengan pendistributor produk
salah satunya adalah masalah kapasitas gudang distributor, terkadang perusahaan
ingin mengirim dalam jumlah tertentu kepada distributor akan tetapi kapasitas
dari gudang distributor tidak memenuhi sehingga mau tidak mau produk akan
menumpuk di pihak gudang perusahaan sehingga dapat menimbulkan biaya yang
besar. Seperti yang terkadang dialami oleh PT Coca Cola Bottling Indonesia di Jakarta
dalam pendistribusian produknya (Dessi K,2011).
PT Coca Cola Bottling Indonesia
merupakan perusahaan minuman internasional yang bermarkas besar di Australia,
yang menangani seluruh kegiatan operasional dan distribusi produk coca-cola
diseluruh Indonesia, perusahaan ini membawahi 12 pabrik yang terbesar di Pulau
Jawa, Sumatra, Kalimantan dan Sulawesi (Mubin,2004). Persediaan produk di PT
Coca Cola Bottling Indonesia dikirim ke sales center kemudian baru dikirim ke outlet. Masalah yang terjadi dari
persediaan produk coca-cola ini adalah pada kapasitas persediaan yang ada di
gudang sales center tidak sesuai dengan jumlah permintaan setiap outlet.
Untuk itu diperlukan
kebijakan-kebijakan yang dapat menguntungkan untuk kedua belah pihak atau
kebijakan-kebijakan tentang produksi dan persediaan yang bertujuan untuk
meminimalkan biaya gabungan antara perusahaan dan distributornya (Nyoman Sutapa
dan Fransiska, 2000).
Berdasarkan uraian tersebut, terjadinya
sebuah masalah pada persediaan barang sebuah perusahaan tergantung model
persediaan yang digunakan perusahaan tersebut. Peneliti tertarik untuk
mempelajari dan mengambil judul “Analisis
Model Persediaan Barang Jadi pada PT Coca Cola Bottling Indonesia di Jakarta”.
Sehingga PT CCBI di Jakarta dapat meningkatkan tingkat efektifitas persediaan
produk dengan model persediaan yang lebih optimal.